MERAUKE | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Provinsi Papua Selatan.
Upaya intensif ini berhasil menurunkan jumlah titik panas (hotspot) secara drastis dari 901 titik panas menjadi tinggal 156 titik panas hanya dalam kurun waktu satu hari.
Penurunan signifikan ini berdampak langsung pada berkurangnya luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D, mengungkapkan berdasarkan laporan terkini, luas lahan terbakar di Papua Selatan yang sebelumnya sempat menembus angka 700 hektar lebih, kini telah berhasil ditekan hingga tersisa 253 hektar, atau mengalami penurunan sebesar 56 persen.
“Wilayah Papua Selatan menjadi perhatian serius dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena memiliki karakteristik wilayah yang rentan. Provinsi baru ini tercatat memiliki lahan gambut seluas 1,12 juta hektar,”jelas Berton.
Lokasi kerawanan tertinggi berada di Kabupaten Mappi dan Kabupaten Asmat, di mana tingkat kekeringan ekstrem di wilayah tersebut dilaporkan telah mencapai angka 70,7 persen.
Merespons situasi kritis ini, Penjabat Gubernur Papua Selatan bersama Bupati Merauke telah resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana untuk mempercepat proses penanganan di lapangan
Sebagai langkah konkret penanggulangan, BNPB telah mengaktifkan Posko OMC yang dipusatkan di Pangkalan Udara (Lanud) J.A. Dimara, Merauke, sejak tanggal 22 Oktober 2026 yang lalu.
Berton mengungkatpkan hingga memasuki hari ke-11 operasi, tim udara telah menerbangkan total 17 sorti penerbangan dan menaburkan sebanyak 17.000 kilogram garam (NaCl) di langit Papua Selatan untuk memancing hujan buatan.
Pada pergerakan terbaru, armada udara menyelesaikan dua sorti penerbangan selama lebih dari 5 jam guna menyebarkan 2.000 kilogram garam di atas wilayah Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel. Langkah ini berhasil memicu pertumbuhan awan hujan menjadi lebih tebal setelah penyemaian dilakukan.
Kendati operasi penaburan garam mulai membuahkan hasil, tim gabungan di lapangan masih menghadapi kendala cuaca yang cukup berat. Fenomena El Nino yang sangat kuat membuat vegetasi wilayah Papua Selatan menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
Selain itu, potensi pertumbuhan awan hujan yang membawa air hanya cenderung terjadi pada waktu sore hingga malam hari.
BNPB juga melaporkan bahwa sebaran kabut asap akibat kebakaran lahan ini masih terpantau melintasi area perbatasan antara wilayah Papua (Indonesia) dengan Papua Nugini.
“Meskipun saat ini beberapa wilayah mulai diguyur hujan, BNPB mengimbau seluruh petugas dan masyarakat untuk tetap bersiaga. Hal ini dikarenakan bara api tersembunyi di bawah permukaan lahan gambut berpotensi memicu titik api baru apabila tidak dipadamkan secara total hingga 100%,”katanya.
Editor | Redaksi Metro | SMSI Network




