JAYAPURA | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua.
Peringatan tersebut menyusul kombinasi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino fase sangat kuat yang melanda wilayah Papua dan sekitarnya.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Arif mengatakan puncak musim kemarau di Papua diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Pada periode yang sama, El Nino di Samudra Pasifik berada pada kategori sangat kuat sehingga berdampak pada penurunan drastis curah hujan.
“Kombinasi puncak musim kemarau dan El Nino yang sangat kuat ini berdampak langsung pada penurunan curah hujan, sehingga memicu potensi kekeringan dan kebakaran hutan di Papua,” ujar Arif di Jayapura, Senin (24/8/2026).
Berdasarkan pemantauan dasarian II Agustus, peningkatan hotspot terpantau intensif di wilayah Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
Sementara di Provinsi Papua, sebaran titik panas tertinggi tercatat di Kabupaten Keerom, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, dan Kota Jayapura.
“Secara keseluruhan BMKG mencatat lebih dari 3.000 titik hotspot di seluruh wilayah Papua. Dari jumlah itu, 186 titik terkonfirmasi dengan tingkat kepercayaan tinggi yang mengindikasikan titik api secara nyata, dengan konsentrasi terbanyak di Keerom dan Biak Numfor,” jelasnya.
Arif menambahkan, selain faktor cuaca ekstrem, aktivitas manusia turut memperparah kondisi. Pembakaran lahan secara sengaja untuk pembukaan area baru kerap menjadi pemicu meluasnya titik api.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG memperbarui data titik api dua kali sehari, yakni siang dan sore hari, kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain itu, laporan hotspot dasarian dikirim setiap 10 hari kepada pemerintah daerah dan Gubernur Papua.
“Untuk Informasi cuaca dan iklim terkini dapat diakses melalui akun resmi @infobmkgpapua atau situs web BMKG”
BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjaga ketersediaan air bersih, meningkatkan kewaspadaan, dan menghentikan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
BMKG juga mengingatkan, beberapa wilayah di Papua memiliki pola hujan tahunan, sehingga potensi hujan lokal berdurasi lama yang dapat memicu banjir dan tanah longsor tetap perlu diwaspadai.
Editor | Redaksi Metro





