HEADLINES

40 Tahun Sekolah Alkitab Bogo: Pengabdian untuk Tanah Papua

×

40 Tahun Sekolah Alkitab Bogo: Pengabdian untuk Tanah Papua

Sebarkan artikel ini

KOBAKMA – Di halaman sederhana Sekolah Alkitab Bogo, Distrik Kelila, Kabupaten Mamberamo Tengah, suasana penuh sukacita bercampur haru menyelimuti penamatan angkatan ke-40, Kamis (18/6/2026). Sebanyak 19 siswa dilepas untuk melangkah ke medan pelayanan, membawa semangat penggembalaan, pastoral, dan pemuridan ke pelosok Papua.

Guru Tanpa Gaji, Mengajar dengan Cinta
Di balik keberhasilan ini, berdiri sosok-sosok guru yang mengabdikan diri tanpa menerima gaji tetap. “Mereka mengajar bukan karena uang, tetapi karena cinta kepada Tuhan dan GIDI,” ungkap Lepianus Kogoya, penanggung jawab sekolah. Tujuh guru itu memilih jalan pengabdian, menyerahkan hidup mereka demi melahirkan generasi pelayan Tuhan.

Pengorbanan mereka menjadi kisah yang jarang terdengar: tinggal di kompleks sekolah dengan fasilitas terbatas, mengajar dengan semangat meski tanpa jaminan finansial. Bagi mereka, setiap lulusan adalah buah dari kesetiaan.

Orang Tua dan Masyarakat: Penopang di Balik Layar
Tak kalah penting, masyarakat Kelila dan para orang tua siswa menjadi tulang punggung keberlangsungan pendidikan. Mereka menyediakan tempat tinggal, makanan, bahkan perhatian sehari-hari bagi para siswa. “Kami tidak bisa membalas semua kebaikan itu. Hanya Tuhan yang dapat membalas dan memberkati,” kata Lepianus dengan mata berkaca-kaca.

Di kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, solidaritas menjadi kekuatan utama. Pendidikan teologi di sini bukan hanya urusan sekolah, melainkan urusan bersama seluruh jemaat.

Harapan di Tengah Keterbatasan
Meski penuh semangat, Sekolah Alkitab Bogo masih bergulat dengan keterbatasan. Kepala sekolah menyebut kebutuhan mendesak: rumah guru, akses air bersih dari gunung, dan pagar beton untuk keamanan. Aspirasi ini disampaikan langsung kepada perwakilan Gubernur Papua Pegunungan, Isak Yando, yang berjanji akan melaporkannya.

Namun keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangat. Justru menjadi bukti bahwa pelayanan di Papua lahir dari pengorbanan, bukan kemewahan.

Lulusan: Cahaya Baru bagi Jemaat
Bagi 19 lulusan, penamatan bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Mereka akan kembali ke kampung-kampung, menjadi gembala bagi jemaat kecil, mengajar anak-anak, dan meneguhkan iman masyarakat. “Firman Tuhan harus menjadi terang bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara,” pesan Gubernur John Tabo yang dibacakan Isak Yando.

Di wajah para lulusan, terpancar harapan sekaligus tanggung jawab besar. Mereka tahu jalan yang akan ditempuh tidak mudah, tetapi panggilan pelayanan lebih kuat daripada rasa takut.


Tonggak Sejarah 40 Tahun
Sejak berdiri pada 1980-an, Sekolah Alkitab Bogo telah melahirkan ratusan pelayan Tuhan. Penamatan ke-40 ini bukan sekadar angka, melainkan tonggak sejarah yang meneguhkan bahwa di tanah Papua, iman dan pengabdian tetap tumbuh, meski di tengah keterbatasan.

Editor | TIM REDAKSI

KONTEN DIBAWAH INI TANGGUNG JAWAB MITRA IKLAN
error: Content is protected !!