HEADLINES

Gubernur John Tabo Pastikan Pembangunan 2200 Unit Rumah Dibangun Awal 2027

×

Gubernur John Tabo Pastikan Pembangunan 2200 Unit Rumah Dibangun Awal 2027

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo didampingi menteri PKP saat melihat ribuan unit rumah yang dibangun di Jawa Tengah. (foto: BPMI/Dok)

WAMENA | Pembangunan 2.200 rumah di Provinsi Papua Pegunungan mulai dikerjakan awal tahun depan. Ribuan rumah tersebut terdiri dari 2.000 rumah untuk masyarakat umum dan 200 rumah untuk kepala suku, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.

Kepastian itu disampaikan Gubernur Dr. John Tabo saat memimpin apel pagi, Kamis 08 Oktober 2026, di halaman kantor gubernur Papua Pegunungan, Wamena.

“Pemerintah mulai mengerjakan pembangunan 2.200 rumah pada Januari tahun depan,”katanya.

Pembangunan 2200 rumah di Papua Pegunungan merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Program 3 Juta Rumah di Indonesia.

Menurut Gubernur Tabo, program pembangunan ribuan rumah ini bakal membawa dampak positif karena pemerintah pusat menyerahkan pelaksanaan program tersebut kepada pemerintah daerah.

“Oleh karena itu, berkat banyak akan beredar di negeri ini. Kita punya tanggung jawab untuk sama-sama menjaga, merealisasikan ini dengan baik ke tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Ia meminta seluruh jajaran pemerintah memastikan program tersebut benar-benar direalisasikan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Pada akhir September, Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) beserta Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar Koordinasi lintas kementerian/lembaga dalam rangka mematangkan rencana pembangunan 2.200 unit rumah layak huni di Provinsi Papua Pegunungan.

Koordinasi lintas kementerian/lembaga tersebut dipimpin Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman) Maruarar Sirait bersama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dihadiri juga Gubernur beserta bupati se-Provinsi Papua Pegunungan. Rapat digelar di Ruang Sidang Utama Gedung A, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta.

Rapat turut dihadiri Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala LKPP Sarah Sadiqa, serta jajaran Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.

Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan pembangunan harus dilaksanakan sesuai prinsip cepat, tepat sasaran, berkualitas, dan taat aturan.

“Bagaimana menjalankan perintah Presiden dengan baik dan benar, sesuai aturan, cepat, berkualitas, dan tepat sasaran,” ujar Maruarar.

Sekretaris Jenderal Kementerian PKP Didyk Choiroel menjelaskan, program ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden sejak 2025. Untuk pelaksanaan tahun 2027, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,529 triliun.

“Dengan arahan Presiden pada 2025, untuk tahun 2027 anggaran sudah tersedia Rp1,529 triliun. Karena itu, diperlukan regulasi untuk membahas perencanaan sampai pelaksanaan,” kata Didyk.

Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko Kementerian PKP Roberia menambahkan, ada sejumlah aspek krusial yang harus dipastikan sebelum konstruksi dimulai, yakni kesesuaian tata ruang, legalitas lahan, kesiapan infrastruktur dasar, faktor keamanan, dan status lahan yang berpotensi masuk kawasan hutan lindung.

Dari sisi pengawasan, Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh mengingatkan pentingnya akuntabilitas di setiap tahapan, mulai dari pendataan hingga penggunaan anggaran.

“Sebagai auditor, kami mengingatkan bahwa nanti harus ada langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Kepala LKPP Sarah Sadiqa menekankan perlunya memilih mekanisme pengadaan yang paling sesuai dengan kondisi lapangan, dengan tetap memberi ruang partisipasi bagi masyarakat lokal.

“Yang penting kita mencari cara yang paling mudah untuk mendapatkan yang paling benar, dengan cara-cara yang betul-betul cocok dengan kebutuhannya. Apapun pilihannya, masyarakat di sana mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan manfaat, sekaligus juga ikut dalam penyelenggaraan,” ujarnya.

Urgensi program ini diperkuat data BPS. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut Papua Pegunungan memiliki persentase rumah tidak layak huni tertinggi di Indonesia, yakni 91,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional 24 persen.

Selain itu, Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Papua Pegunungan mencapai 241,52 tertinggi secara nasional yang akan menjadi pertimbangan utama dalam penentuan kebutuhan anggaran.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa mekanisme pengawasan harus diperhatikan dan pemerintah daerah akan berperan dalam penentuan calon penerima manfaat.

Gubernur Papua Pegunungan John Tabo mengapresiasi perhatian pemerintah pusat dan berharap masyarakat lokal dilibatkan secara aktif.

“Kami selaku penerima manfaat berterima kasih kepada Bapak Presiden. Sudah tiba saatnya untuk merealisasikan. Kami berharap pemerintah pusat dapat mempertimbangkan keterlibatan masyarakat setempat karena ini menjadi rumah mereka,” ujar John.

Hasil pembahasan lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah ini dilaporkan kepada Presiden sebagai bahan penyempurnaan dan penentuan langkah pelaksanaan agar program berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran.

Editor | Redaksi Metro | SMSI Network

KONTEN DIBAWAH INI TANGGUNG JAWAB MITRA IKLAN
error: Content is protected !!